
Tanpa terasa puasa Ramadan kita telah memasuki hari ke sembilan, artinya kita berada di penghujung sepuluh hari penuh rahmat, menuju sepuluh hari bulan yang disinyalir dengan maghfirah.
Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ramadan dibagi menjadi tiga bagian.
"Awaluhu rahmah, wa awsathuhu maghfirah, wa akhiruhu 'itqun minannar. Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan yang terakhir adalah terbebas dari api neraka." Demikian sabda Nabi Muhammad saw. Meskipun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu'abul Iman dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya itu dinilai lemah (dla'if), namun menurut para ulama, tetap boleh dijadikan rujukan. Tak lain, untuk kepentingan keutamaan beramal (fadhailul a'mal).
Bahwa untuk memotivasi umat agar meningkatkan amal saleh terutama di Ramadan, dalil tersebut sampai saat ini pun masih sering disampaikan oleh para dai dan mubalihg kita. Tentu dengan maksud agar bulan Ramadan benar-benar dijadikan ladang amal. Karena di bulan inilah Allah SWT melipatgandakan nilai segala kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.
Secara bahasa, kata maghfirah berasal dari ghafara - yaghfiru - ghufran atau maghfiratan artinya pengampunan yang memiliki akar kata menutupi atau memaafkan. Maghfirah juga diartikan sebagai hak Allah dalam memberikan perlindungan atau pengampunan terhadap hambaNya yang melakukan taubat.
Puasa Ramadhan yang disertai dengan keimanan dan ihtisaban yaitu keikhlasan kepada Allah, puasanya semata karena Allah bukan karena riya bukan karena menginginkan pujian dari manusia, maka balasannya dosa yang terdahulu dihapus. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari).
Betapa besar karunia Allah yang dilimpahkan kepada hamba-Nya dengan maghfirahnya terlebih bagi mereka yang menjalankan puasa pada bulan Ramadan dengan ikhlas maka segala dosa masa lalunya diampuni. Maka perbanyaklah istighfar mohon pengampunan di setiap waktu.
Pentingnya Istighfar
Ada baiknya kita memetik pelajaran dari kisah ulama bersama orang-orang saleh, bagaimana menyadari pentingnya istighfar.
Adalah Imam Hasan Bashri (641-728 M). Dia merupakan seorang sufi dari generasi tabi'in terbesar yang banyak menghabiskan waktu untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah. Juga mendakwahkan kearifan Islam, sehingga banyak orang di masanya termotivasi untuk menjalankan agama Islam dengan tulus.
Suatu ketika Imam Hasan Al Bashri rahimahullah sedang duduk-duduk di dalam masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba ada seorang yang datang menghampirinya dan berkata dengan nada mengeluh, “Ya Taqiyuddin, hujan belum juga turun.” Mendengar perkataan tersebut, Hasan Al Bashri menasehati, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah.”
Tak lama kemudian datang lagi seorang lainnya yang juga mengadukan keluh kesahnya, ”Ya Taqiyuddin, aku menderita kemiskinan yang parah.”
Maka Imam Hasan Al Bashri berkata, ”Perbanyaklah istighfar kepada Allah”. Seorang yang lain juga datang mengeluhkan keadaan dirinya, “Ya Taqiyuddin, istriku mandul, tidak bisa melahirkan anak”, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala,” sebut Hasan Al Bashri rahimahullah masih dengan jawaban yang sama.
Tak lama kemudian ada seorang lagi yang datang, “Ya Taqiyuddin, bumi sudah tidak memberikan hasil bumi dengan baik”
Maka sekali lagi Hasan Al Bashri pun berkata, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala.”
Beberapa teman yang sedang berkumpul bersamanya di tempat itu terheran-heran dengan jawabannya. Mereka bertanya, kenapa setiap ada orang yang mengeluhkan hal-ihwalnya kepadamu, selalu Anda perintahkan kepadanya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah?
Maka Imam Hasan Al Bashri menjawab, “Apakah Anda tidak membaca Firman Allah Ta′ala yang artinya: "Maka Aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS: Nuh: 10-12).
Mendengar penjelasan sang imam, orang-orang yang bertanya tadi barulah menyadarii, bahwa istighfar adalah jalan untuk dekat dengan Allah. Dengan begitu, Allah akan membuka berbagai kemudahan untuk menggapai cita-cita dan kemuliaan.
Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah, betapa pada bulan mulia ini yang pintu maghfirah terbuka lebar, jangan biarkan lewat begitu saja tanpa kita bersimpuh di hadapan-Nya untuk senantiasa memohon ampun atas segala dosa kita. Semoga dengan banyak istighfar Allah membuka jalan kemuliaan hidup.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Jambi, 27 Februari 2026
Dr. Chazim Maksalina, M.H.