Palembang Menuju Kota Internasional
Meskipun baru satu hari dan baru pertama kali menginjak bumi Sriwijaya, rasanya penulis harus bercerita tentang kota pempek alias kota wong kito ini. Kota ini juga merajut sejarah lama dan punya ikon sungai legen ya sungai Musi. Penulis ingin menyoroti kota Palembang, meskipun sekilas lintas yang ada di benak penulis.
Ketika ada yang bertanya, kota mana di Indonesia yang paling beruntung selama era reformasi? Jawabannya satu, yakni Palembang. Mengapa? Karena selama era reformasi dua presiden 2004-2014 (SBY) dan 2014-2024 (Jokowi), Palembang mampu mengubah diri. Dari sebuah kota kecil yang tidak memiliki hotel berbintang menjadi kota besar yang menyedot pundi-pundi para pebisnis kelas kakap.
Prestasi itu lahir berkat kemampuannya menjadi penyelenggara kegiatan olahraga berskala nasional dan internasional. Hal ini menunjukkan adanya solidaritas yang kuat di antara sesama orang Palembang.
Kalau ditelisik awal mula kebangkitan tersebut dimulai dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI di Sumatera Selatan pada 2-14 September 2004. Kegiatan itu melibatkan personil masal baik atlet, official, wasit dan para technical delegate tentu saja juga aura nasional tertuju ke sana. Belum lagi penonton dan para pendukung lainnya dari semua provinsi di Indonesia.
Dua pekan berselang dilakukan Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas). Susah pasti kegiatan ini melibatkan massa yang masif. Untuk menyukseskan pesta olahraga tersebut, pemerintah membangun kompleks olahraga di Jakabaring. Membangun kembali landas pacu dan terminal penumpang bandar udara Sultan Badaruddin II Palembang agar pesawat berbadan lebar pun mampu mendarat dengan nyaman. Frekuensi penerbangan dari Jakarta ke Palembang pergi pulang pun menjadi bertambah. Pada saat yang sama, sejumlah investor swasta mulai membangun hotel berbintang di Palembang. Ini sebuah loncatan besar, sebab sebelumnya Kota Palembang agak tertinggal dibanding dengan Kota Bandar Lampung yang kala itu sudah memiliki hotel bintang tiga.
Setelah itu, kegiatan nasional pun mulai banyak digelar di Palembang. Sumsel pun menjadi salah satu pilihan utama bagi investor nasional dan asing untuk berinvestasi. Pemda setempat kemudian tetap merawat kompleks olahraga Jakabaring dengan baik.
Sukses
penyelenggaraan PON, maka awal tahun 2009, pemerintah Provinsi Sumsel kembali mengajukan diri menjadi tuan rumah Pesta Olahraga masyarakat Asia Tenggara (SEA Games) 2011. Usulan tersebut pun diterima. Bahkan, pemerintah pusat saat itu menunjuk Kota Palembang sebagai tempat acara pembukaan dan penutupan SEA Games 2011.
Modal utama qadalah keseriusan, kesanggupan dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah serta seluruh masyarakat Sumsel untuk menggelar acara bergengsi tersebut.
Mulai dari penyediaan infrastruktur umum, infrastruktur khusus, tempat pertandingan hingga organisasi penyelenggara. Untuk infrastruktur umum, misalnya, IOC mewajibkan memiliki bandara bertaraf internasional.
Bandara Sultan Badaruddin II Palembang saat itu, memang telah terkategori internasional, tetapi kapasitas terminal khususnya di ruang keberangkatan dan kedatangan internasional masih sangat terbatas.
Jika para peserta, penonton, dan penumpang lainnya datang dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang yang berdekatan, hal itu bakal membuat mereka harus berdesakan saat pengambilan barang.
Kondisi itu menuntut pembenahan.
Syarat lain seperti penyediaan transportasi dari bandara ke tempat penginapan, jaringan internet, rumah sakit, perhotelan, restoran dan lain sebagainya.
Fasilitas ini bukan semata-mata untuk atlet, melainkan para tamu lain, termasuk dari luar negeri yang datang atas biaya sendiri atau kelompok untuk menonton dan memberikan dukungan bagi atletnya yang akan bertanding.
Untuk menyediakan fasilitas bertaraf internasional tersebut pemerintah pusat pun menggelontorkan dana yang besar dari APBN serta investasi dari badan usaha milik negara (BUMN) dan swasta. Masuknya investasi pemerintah dan swasta ini otomatis menggerakan ekonomi lokal. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat ikut bangkit. Adanya kegiatan olahraga bertaraf internasional itu membuat wajah Kota Palembang dan sekitarnya pun berubah. Kota semakin tertata.
Pemasangan lampu jalan, perbaikan taman kota, pengaspalan jalan, perbaikan saluran air, penyediaan air bersih, aliran listrik pun stabil selama 24 jam. Yang lebih menarik lagi adalah muncul kesadaran bersama dari masyarakat setempat yang ingin mewujudkan Kota Palembang yang aman.
Mereka tentu bahu-membahu berusaha agar kota ini jangan lagi menjadi kawasan yang rawan kriminalitas, melainkan bersih dan nyaman bagi wisatawan sehingga pantas untuk tinggal lebih lama.
Asian Games
Manuver orang Palembang belum selesai. Pada tahun 2018, Palembang bersama Jakarta terpilih lagi menjadi tuan rumah pesta olahraga masyarakat Asia (Asian Games). Panggung promosi ibukota Sumatera Selatan pun bertambah tinggi dan semakin meluas.
Dengan even berkelas internasional, Palembang menjadi buah bibir masyarakat Asia dan dunia. Sorot mata dunia dengan sendirinya tertuju ke Palembang.
Palembang menjadi kota pertama di luar Jakarta yang menjadi tuan rumah even olahraga terbesar di Asia ini. Demi menjadi tuan rumah yang baik, pemerintah membangun sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur secara besar-besaran di Palembang. Perluasan terminal penumpang bandara dan perpanjangan landas pacu bandara Sultan Badaruddin II, pembangunan jembatan Sungai Musi II, yang spektakuler pembangunan kereta layang dengan rute bandara ke Jakabaring, renovasi tempat pertandingan di kompleks Jakabaring.
Kalau tanpa adanya even olahraga seperti Asian Games di Palembang, Sumatera Selatan takkan semaju saat ini. Penulis saat ini terkejut menyaksikan betapa wajah Kota Palembang menampakkan kota yang bisa bersaing dengan kota besar di Indonesia. Kota itu semakin hidup sebagai pertanda ekonomi masyarakat pun menggeliat.
Hotel berbintang hadir begitu banyak. Tingkat keterisian pun kayaknya cukup tinggi.
Kondisi ini menandakan bahwa perekonomian setempat terus berkembang dan selalu memberikan harapan baik. Solidaritas yang kuat, harus kita akui, potensi sumber daya alam di Sumatera Selatan juga sangat besar. Ada kilang minyak di Plaju. Kilang minyak ini merupakan yang tertua di Indonesia. Usianya melebihi 100 tahun. Demikian pula tambang batu bara yang berlimpah.
Dengan mengandalkan potensi tambang yang ada yang didukung dengan perkebunan karet dan kelapa sawit, Sumsel sepatutnya mampu berkembang dan sepantasnya lebih hidup. Akan tetapi, kondisi ini masih menimbulkan kegelisahan di kalangan orang Palembang yang masih menyisakan kesenjangan soal.Mereka menyadari perlu sebuah terobosan luar biasa agar perekonomian Sumsel dan Palembang bisa bertumbuh signifikan. Untuk mewujudkan Palembang menjadi kota bertaraf internasional.
Kejelian pemiilihan pada even olahraga menjadi sangat tepat. Berkat kecerdikan para pemimpinnya yang terus-menerus melakukan pendekatan ke pemerintah pusat dan berbagai pihak, Kota Palembang pun menjadi tuan rumah. Mereka juga mampu mengapitalisasi kegiatan bertaraf nasional dan internasional sebagai momentum mempercepat pergerakan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah itu. Faktanya seperti yang kita lihat saat ini. Kota Palembang telah berkembang menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Popularitasnya menggema ke seluruh dunia. Hal ini menjadi magnet besar bagi investor kelas kakap dan wisatawan. Semuanya bisa terwujud dengan optimal berkat solidaritas yang kuat sesama Wong Kita Galo.Semangat saling mendukung tanpa membedakan aliran politik, agama, suku dan lainnya subur berkembang dalam segala urusan.
Sepengamatan penulis, saat menyusur jalan di kota, yang membedakan dengan kota besar lainnya di Indonesia adalah adanya pembangunan lajur LRT (light rail traffic). Penulis merasakan sendiri seperti menyusuri jalan di ibu kota Jakarta. Suntikan dari pemerintah pusat membangun Palembang sangat terasa.
Penulis tidak menyia-nyiakan momen pertama menginjakkan kaki di bumi Sriwijaya dengan mengambil gambar di jembatan Ampera yang menjadi ikon Palembang yang dahulu terdapat Kerajaan Sriwijaya.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Jambi, 28 Agustus 2025
Dr. Chazim Maksalina, M.H.
Pelayanan Prima, Putusan Berkualitas