
Dalam surat Luqman ayat 20 ada ayat yang sangat menarik untuk menjadi perhatian dan kajian kita. Ayat tersebut jika diterjemahhkan sebagai berikut:"Dan telah Aku sempurnakan atas kamu sekalian nikmat-nikmat dhahir (yang tampak) dan batin (yang tersembunyi)"(QS Luqman:20).
Kali ini penulis hanya akan mengulik sisi batin tentu dalam keterbatasan penulis yang masih banyak kekurangan. Oleh karena itu tulisan ini hanya membedah dari sudut pandang ke- tasawuf an.
Dalam pandangan ulama tasawuf, manusia bukan hanya terdiri dari jasad fisik semata. Di dalam diri manusia terdapat unsur batiniah yang menjadi pusat kehidupan spiritual , yaitu ruh , nafs (jiwa), dan qolbu (hati).
Memahami ketiganya sangat penting agar manusia tidak hanya hidup secara biologis , tetapi juga hidup secara ruhani.
Ruh: Cahaya Kehidupan dari Allah
Ruh adalah rahasia kehidupan yang berasal dari Allah SWT. Ketika ruh berada dalam jasad, manusia hidup. Ketika ruh dicabut, manusia menjadi mayit. Namun para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ruh bukan sekadar nyawa, melainkan unsur ilahiah yang membuat manusia memiliki kesadaran spiritual.
Allah berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku". (QS. Al-Isra’: 85)
Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat ruh sangat dalam dan tidak sepenuhnya mampu dijangkau akal manusia.
Menurut Imam Al-Ghazali, ruh adalah substansi halus yang mampu mengenal Allah dan menerima cahaya makrifat. Ruh cenderung menuju kebaikan, ketenangan, dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Karena itu, ibadah, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an sejatinya adalah makanan ruhani.
Ketika ruh jauh dari Allah, manusia akan mudah gelisah meskipun secara materi terlihat berkecukupan. Sebaliknya, orang yang ruhnya hidup akan merasakan ketenangan meski hidup sederhana.
Jiwa (Nafs): Medan Perjuangan Manusia
Dalam tasawuf, nafs sering dimaknai sebagai jiwa atau dorongan diri manusia yang menjadi pusat syahwat , ego , dan keinginan duniawi. Nafs inilah yang harus dididik dan disucikan.
Para ulama membagi tingkatan nafs menjadi beberapa tingkatan, di antaranya:
Nafs Ammarah
Jiwa yang mendorong kepada keburukan dan hawa nafsu.
Nafs Lawwamah
Jiwa yang mulai sadar dan menyesali dosa.
Nafs Muthmainnah
Jiwa yang tenang karena dekat kepada Allah.
Perjalanan spiritual seorang salik dalam tasawuf pada hakikatnya adalah proses mengendalikan nafs agar tidak menguasai hati dan akal. Karena itu para ulama sufi menekankan pentingnya mujahadah, tirakat, dzikir, dan latihan kesabaran.
Qolbu: Pusat Kesadaran Spiritual
Qolbu atau hati bukan hanya organ fisik, tetapi pusat rasa, kesadaran, dan tempat memantulkan cahaya Ilahi. Dalam hadits disebutkan:
"Dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati". (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut para ulama tasawuf, qolbu ibarat cermin. Jika dipenuhi dosa, kesombongan, iri hati, dan cinta dunia berlebihan, maka cermin hati menjadi keruh sehingga sulit menerima cahaya kebenaran. Tetapi jika dibersihkan dengan dzikir, taubat, dan keikhlasan, maka hati akan menjadi bening dan mudah menerima petunjuk Allah.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa hati yang hidup akan mudah tersentuh oleh kebaikan, sedangkan hati yang mati akan keras meskipun sering mendengar nasihat.
Hubungan Ruh, Jiwa, dan Qolbu Dalam perspektif tasawuf:
Ruh adalah unsur suci yang cenderung menuju Allah. Nafs adalah dorongan diri yang harus dikendalikan. Dan Qolbu adalah medan pertarungan antara cahaya ruh dan dorongan nafs.
Jika qolbu dipenuhi dzikir dan ilmu, maka ruh akan menguat dan nafs menjadi terkendali. Tetapi jika hati dipenuhi syahwat dan kesombongan, maka nafs akan menguasai manusia hingga ruh menjadi lemah.
Karena itu, inti tasawuf sebenarnya bukan menjauh dari kehidupan dunia, tetapi membersihkan hati agar manusia tetap hidup bersama Allah di tengah kehidupan dunia.
Relevansi di Era Modern
Hari ini banyak manusia mengalami krisis spiritual. Teknologi semakin maju, tetapi hati semakin gelisah. Informasi melimpah, tetapi jiwa mudah kosong. Manusia modern sering sibuk memperindah fisik dan kehidupan luar, tetapi lupa merawat batinnya.
Di sinilah ajaran tasawuf menjadi penting. Ulama sufi mengajarkan bahwa ketenangan sejati bukan hanya berasal dari materi, tetapi dari hati yang dekat kepada Allah. Sebab manusia tidak cukup hanya sehat jasadnya, tetapi juga harus sehat ruh dan jiwanya. Maka membersihkan qolbu, mengendalikan nafs, dan menghidupkan ruh melalui dzikir, ilmu, ibadah, serta akhlak mulia adalah jalan untuk menghadirkan ketenangan hidup di tengah dunia yang semakin gaduh. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Muara Bungo, 20 Mei 2026
Dr. Chazim Maksalina, M.H.